Cerita Rakyat Bandung Bondowoso, Kisah Cinta Seribu Candi

Cerita Rakyat Bandung Bondowoso, Kisah Cinta Seribu Candi

Naturalisasi
Diambil dari cerita rakyat, pada zaman dahulu ada kerajaan Medang, ada dua wangsa besar yang kuat yaitu dinasti Sanjaya menganut Dewa Siwa Hindu dan Syailendra menganut agama Buddha Mahayana.

Cerita Rakyat Bandung Bondowoso
Candi

Bisa jadi kedua dinasti itu memerintah Medang secara bergantian. Salah satu raja terbesar dinasti Syailendra, Samaratungga memiliki seorang putri bernama Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan, dari dinasti Sanjaya.

Bisa dirasakan sebagai pernikahan politik untuk menyatukan dua rumah besar karena dengan pernikahan tersebut, berarti Rakai Pikatan juga memiliki otoritas atas tahta Samaratungga.

Kasus ini kemudian ditentang oleh Balaputeradewa yang juga berasal dari dinasti Syailendra. Perebutan kekuasaan pun terjadi, dan kemenangan itu bersama Rakai Pikatan.

Lalu bagaimana dengan kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang?
Tokoh cerita rakyat tersebut ada kemungkinan mengacu pada tokoh nyata di masa kerajaan. Naturalisasi mengambil cerita rakyat ini dari berbagai sumber yang memungkin untuk dijadikan refrensi kedua.

Sejarah Bandung Bondowoso

Bandung Bondowoso merupakan tokoh fiksi sebagai peran Rakai Pikatan, Rara Jonggrang memerankan Permaisuri Pramodhawardhani serta Balaputeradewa berperan sebagai Ratu Boko.

Candi Sewu, yang sebenarnya hanya sekitar 249 candi, digambarkan sebagai bangunan candi yang tidak dilengkapi oleh Bandung Bondowoso.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa kisah perebutan kekuasaan ini harus diceritakan dengan deskripsi karakter yang berbeda?

Penalaran cerita rakyat

Pertama
Kisah ini diceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi hingga berkembang begitu luas di kalangan orang awam.

Sungguh tidak indah untuk mengatakan secara terbuka tentang perselisihan kerajaan.

Demi alasan keamanan, keselamatan dan kenyamanan akan lebih baik jika karakter dalam cerita itu disamarkan dengan nama lain.

Kedua
Kita tentu tidak dapat mengesampingkan fakta bahwa bangunan candi ini hanya ditemukan kembali oleh pemerintah kolonial.

Saat itu, jaman telah berubah.
Hindu dan Budha bukan lagi kepercayaan mayoritas.

Bahkan kerajaan yang berkuasa saat itu tidak lagi bercorak Budha Hindu, tetapi Islam.

Mungkin ada upaya untuk menyamarkan asal usul candi pemujaan Siwa ini dalam bentuk cerita kuno tentang Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.

Upaya ini dapat dimengerti karena penggunaan murni bangunan ini tidak sesuai dengan kepercayaan pemerintah yang berkuasa saat itu.

Kemudian perebutan kekuasaan antara Sanjaya dan dinasti Syailendra dikombinasikan dengan kepentingan kekuasaan pada waktu itu menjadi legenda Roro Jonggrang.

Lalu mengapa Pramodhawardhani digambarkan sebagai Durga Mahisasura Mardini?
Tidak dapat dikonfirmasi secara nyata. Tapi itu wajar bagi orang Jawa untuk memanggil tokoh-tokoh tertentu sebagai bentuk penghormatan.

Jadi mengingat Rakai Pikatan, seorang Hindu Siwa, adalah mungkin untuk memberi penghormatan kepada ratu dalam bentuk patung Durga Mahisasura Mardini.

Bathari Durga sendiri disembah sebagai dewi perlindungan.

Tentu saja, ini bukan teori yang valid. Teori ini hanyalah pola penalaran yang dipegang di kepala dalam upaya mengumpulkan berbagai informasi tentang Candi Prambanan.

Kesenjangan waktu kami terlalu jauh dengan pembangunan Sivagraha ini, dan terlalu sedikit sumber data yang dapat mengatakan apa itu sebenarnya. Mungkin kita harus memiliki lebih banyak sejarawan atau arkeolog yang dapat memeriksa lebih dalam sehingga kita tahu seperti apa nenek moyang kita di masa lalu.

Agar kita tidak kehilangan arah, kita lebih akrab dengan tokoh-tokoh asing daripada yang berasal dari nusantara.

Lebih lambat lagi kisah-kisah perang di antah berantah yang kita sendiri bahkan tidak terlibat, daripada memahami konflik yang telah terjadi di tanah kita sendiri.

Yang pasti adalah mempelajari kisah negara sendiri itu penting, supaya kita bisa mengenal identitas kita sebagai bangsa.